Jumat, 08 Juli 2016

Tanda Petik (“…”)

pemakaian tanda petik ejaan bahasa Indonesia

1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

Misalnya:
(1) “Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
(2) Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”

(3) “Merdeka atau mati!” seru Bung Tomo dalam pidatonya.
(4) “Kerjakan tugas ini sekarang!” perintah atasannya. “Besok akan dibahas dalam rapat.”
(5) Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, “Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan.”


2. Tanda petik mengapit judul sajak, syair, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.

Misalnya:
(6) Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.
(7) Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
(8) Perhatikan “Pemakaian Tanda Baca” dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
(9) Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di SMA” dimuat dalam majalah Tempo.

(10) Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarikperhatian peserta seminar.
(11) Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
(12) Sajak “Pahlawanku” terdapat pada halaman 125 buku itu.
(13) Marilah kita menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”!
(14) Film “Ainun dan Habibie” merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah novel.


3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.

Misalnya:
(15) Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
(16) Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.

(17) “Tetikus” komputer ini sudah tidak berfungsi.
(18) Dilarang memberikan “amplop” kepada petugas!


4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.

Misalnya:
(19) Kata Tono, “Saya juga minta satu.”

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

Misalnya:
(20) Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
(21) Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.


Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

Kesalahan yang sering ditemukan di lapangan adalah penggunaan tanda petik untuk mengapit kata bahasa asing atau bahasa daerah seperti pada kalimat berikut.

(22) Istilah “deadline”* dan “ballroom”* dipadankan dengan tenggat* dan balai riung.*
(23) Dalam menyikapi masalah itu diperlukan sikap “legawa”.*


Penggunaan tanda petik seperti pada kalimat (22) dan (23) tidak benar. Kata bahasa asing atau kata bahasa daerah tidak diapit dengan tanda petik, tetapi ditulis dengan huruf miring. Di samping itu, untuk menuliskan terjemahan tidak digunakan huruf tebal, tetapi diapit dengan tanda petik tunggal. Dengan demikian, penulisan kalimat (22) dan (23) dapat diperbaiki menjadi seperti berikut.

22a) Istilah deadline dan ballroom dipadankan dengan 'tenggat' dan 'balai riung'.
23a) Dalam menyikapi masalah itu diperlukan sikap legawa.


Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

0 komentar:

Posting Komentar