Rabu, 29 Juni 2016

Tanda Pisah (―)

pemakaian tanda pisah ejaan bahasa Indonesia
1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.

Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu―saya yakin akan tercapai―diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.

2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan oposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

Misalnya:
Rangkaian temuan ini―evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atom―telah mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama bandar udara internasional.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus digelorakan.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua dilangan atau tanggal dengan arti ‘sampai dengan’ atau ‘sampai ke’.

Misalnya:
1910―1945
Tanggal 5―10 April 1970
Jakarta―Bandung


4. Untuk menunjukkan dipotongnya suatu ujaran dalam kalimat langsung.

"Sudah kukatakan, sebaiknya kamu teliti dulu―"
"Sudah! Sudah kuteliti berulang―"
"Lah, kenapa masih salah kirim?"  

Catatan:
Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

Catatan Sriyanto dalam Ejaan Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 2014 halaman 92—93:

Pengalaman saya di lapangan menunjukkan bahwa tanda hubung masih jarang diterapkan dalam praktik berbahasa sehari-hari. Yang lebih mengherankan lagi adalah bahwa pada umumnya orang tidak tahu bahwa ada tanda hubung dalam kaidah Ejaan Bahasa Indonesia. Padahal, tanda hubung dicantumkan dalam Ejaan Bahasa Indonesia bersamaan dengan tanda baca yang lain. Hal [ini] terjadi mungkin karena tanda yang digunakan hampir sama. Tanda hubung lebih pendek daripada tanda pisah.
Berikut contoh penerapan kaidah tanda hubung yang salah.

1) Peperangan itu terjadi tahun 1928-1930.*
2) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00-12.00.*


Pada umumnya orang menulis sampai dengan hubung seperti pada contoh (1) dan (2). Penulisan seperti itu salah. Seharusnya, tanda baca yang digunakan adalah tanda pisah, bukan tanda hubung sehingga pebaikannya menjadi seperti berikut.

1a) Peperangan itu terjadi tahun 1928—1930.
2a) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00—12.00.


Ada cara lain untuk menulis frasa atau kelompok kata sampai dengan. Pertama, frasa itu tidak
disingkat. Kedua, frasa sampai dengan disingkat menjadi s.d. Perhatikan contoh berikut!

1b) Peperangan itu terjadi tahun 1928 sampai dengan 1930.
2b) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00 sampai dengan 12.00.
1c) Peperangan itu terjadi tahun 1928 s.d. 1930.
2c) Rapat akan dilaksanakan pukul 08.00 s.d. 12.00.


Perlu dicatat bahwa singkatan sampai dengan yang disingkat dengan s/d seperti yang ada di spanduk-spanduk di pusat-pusat perbelanjaan merupakan contoh kesalahan yang diperagakan oleh para pengelola pusat perbelanjaan tersebut.

Baca juga:
Tanda Garis Miring (/)
Tanda Petik Tunggal (‘…’)
Tanda Petik (“…”)
Tanda Kurung Siku ([…])
Tanda Kurung ((…))
Tanda Seru (!)
Tanda Tanya (?)
Tanda Elipsis (…)
Tanda Pisah (―)
Tanda Hubung (-)
Tanda Dua Titik (:)
Tanda Titik Koma (;)
Pemakaian Tanda Koma (,)
Pemakaian Tanda Titik (.)
Tanda Apostrof (')

0 komentar:

Posting Komentar